Rabu, 07 September 2011

First Love

First Love,,,


Tak pernah aku bayangkan akan terus bertahan menantinya selama bertahun-tahun. Tak terasa sudah 10 tahun aku menyukainya, kini usiaku telah beranjak 22 tahun. Mungkin terkesan aneh, karena kalau dikurangi berarti usiaku waktu itu adalah 12 tahun. Ya, dia adalah cinta monyetku waktu kami duduk dibangku SD. Bahkan sebelum usiaku 12 tahun tepatnya saat tahun ke 4  menginjak bangku SD aku sudah mulai menyukainya.


Awalnya dia yang memulai, saat pulang sekolah aku yang sedang menunggu sepupu untuk pulang bersama dihampiri olehnya dan teman-temannya. Aku biasa saja, karena aku pikir dia hanya akan melewatiku. Akan tetapi dia berhenti didepanku dan kemudian tangannya membelai wajahku. Aku hanya diam, ingin marah tapi aku tak bisa. Dia berlalu bersama teman-temannya sambil tersenyum. 


Akhirnya aku tahu dia menyukaiku, tapi saat itu aku menolaknya. Walau begitu kami tetap berteman. Anehnya setelah itu lama-lama aku yang mulai sering memperhatikan dia, walaupun dengan mencuri-curi pandang. 


Akhir tahun pelajaran kelas 6, Dia dekat dengan sahabatku sendiri. Dan bahkan ada sahabatku yang lain ternyata juga menyukainya. Aku berusaha bersikap biasa saja, walau terkadang aku penasaran dengan berita yang aku dengar itu. 


Perpisahan kelas 6 tahun 2002, selama acara aku begitu menikmatinya. Tak pernah aku sangka dari semenjak kelulusan aku akan sangat merindukannya. Dia begitu sulit untuk ditemui mungkin karena dia sedang berada di Pondok Pesantren. Sempat aku melihatnya sekilas saat aku melewati rumahnya pada Hari Raya Idul Fitri. Alangkah senangnya hatiku. Tahun berikutnya aku lewat rumahnya lagi tapi kala itu hasilnya nihil.


Tahun 2008 adalah tahun yang memberi kesan lebih dalam hidupku. Setelah 6 tahun tidak tahu kabarnya kini aku telah memegang nomor handphone-nya. Sampai-sampai dada ini berdebar-debar tidak karuan. 

Curhat Sang Pengeluh

Belakangan ini pekerjaan begitu menyita otakku.
Sejujurnya aku ingin berhenti, tapi aku bingung harus memulai dari mana?
Jika aku berhenti, bagaimana dengan keluargaku...?
Bahkan aku tak mampu memberitahu mereka bahwa aku sudah tak bisa bertahan disana.
Aku ingin mereka menegrti tanpa aku harus berbicara langsung pada mereka.
Akan tetapi aku rasa itu sangat sulit, karena memang mereka kurang memperhatikanku secara mendalam.
Bukan salah mereka, karena memang aku yang tertutup.
Memendam ini sendiri membuatku sulit untuk merasakan ketenangan pikiran.
Aku sering berbohong sakit hanya untuk menghindari semua masalah yang sebetulnya bukanlah murni masalahku.
Tapi aku pun tak mungkin tidak memikirkannya.
Apa yang harus aku lakukan?
Sungguh aku tak mampu seperti ini terus.
Aku mungkin bisa berpura-pura tak memiliki masalah tapi ini sungguh membebani pikiranku.
Mungkin akan sangat sulit untuk memulai mencari pekerjaan yang baru, karena aku tahu diri ini hanya berpendidikan rendah.
Aku ingin memulai yang baru tapi aku bingung harus memulai dari mana,,,?
Aku sendiri tidak tahu apa kemampuanku...?
SUNGGUH AKU TIDAK INGIN DALAM KONDISI SEPERTI INI TERUS MENERUS, SEMOGA ADA SETITIK CAHAYA YANG MAMPU MENGELUARKANKU DARI GELAPNYA KEHIDUPAN INI.

Rabu, 13 Oktober 2010

Assalamu'alaikum,,
perkenalkan nama aku Ratna, aku anak pertama dari 3 bersaudara untuk saat ini tentunya. Siapa tahu nanti punya adik lagi. hehehe
Aku lahir dan besar di Cileungsi, Bogor-Jawa Barat.
Itu saja nanti bisa kita sambung lagi cccaaaawww...